Minggu, 06 Mei 2012

MYMP-SAY YOU LOVE ME


MYMP-SAY YOU LOVE ME

Oh hoh
Oh yeah
Oh woh
Don’t you know that I want to be more than just your friend
Holding hands is fine but I’ve got better things on my mind
You know it can happen if you’ll only see me in a different light
Baby, when we fin’lly get together, you will see that I was right
CHORUS
Say you love me (just say you love me)
You know that it could be nice (could be nice)
If you’ll only say you love me (say you love me)
And don’t treat me like I was ice, hoh
Please love me (just say you love me)
I’ll be yours and you’ll be mine (you’ll be mine)
If you’ll only say you love me, baby (say you love me)
Things would really work out fine
[Repeat 1st Stanza]
[Repeat CHORUS]
Ahi yeah yeah
You know that it could be nice
If you’ll only say you love me
And don’t treat me like I was ice, hoh hoh
Please love me, woh woh woh woh woh
[Repeat CHORUS twice]
CODA
Say you love me (just say you love me)
You know that it could be nice (could be nice)
Say that you love me (say you love me)
Woh woh woh woh woh
(Just say you’ll love me)
(You’ll be mine)
(Say you love me)

Application Letter 2


May 5, 2012

Astra Toyota International
Kawasan Industri Jababeka
Cikarang, Bekasi

Dear Sir,
                I’ve just read an articlein SINDO and observer about Astra Toyota International. I would like to apply for a position in Astra Toyota Intyernational as a accountand.
                I’m applying for this because I have great interest the ability and skills required for this position. Personaly, I’m able to speak English and Mandarin fluently and of course I’m able to operate the computer. I’m fresh graduate in University of Gunadarma. I convince you that I have strong motivation to learn and work. Please find my curriculum vitae.
                I will be happy to meet with you. Thankyou very much for attention.

Sincerely yours

(Nuning Yulihardini)


Application Letter


May 5, 2012

Mr. XXXXXX
Human Resources Department
Air Asia


Dear Mr. XXXXXX,

If Air Asia requires a high-energy Flight Stewardess with a no-excuses attitude and is up to any task, than
I’m the person you’re seeking. I believe that my abilities and qualifications can be fully applied to our mutual benefit. My resume is enclosed for your review and consideration.
I am a female, 25 years old with 165cm height and 50 kgs weight. I am considered a pleasant personality and have a great communication skills. I also have willingness and commitment to serve a compulsory service bond. Other strengths include the ability to understand people’s character, hard work, coupled with integrity & dedication is the reason for success in each of my earlier assignments.
I believe that my organizational skills and my outgoing personality will enable me to contribute to your high standards. I am confident I can provide many valuable contributions to your company.

Thank you for reviewing my credentials. I look forward to hearing from you.


Sincerely,

(Nuning Yulihardini)

Senin, 26 Maret 2012

TUGAS BAHASA INGGRIS BISNIS 2

PRESENT TENSE
(+) Subject + V1 + s/es
(-) Subject + does/do (not) + V1
(?) Does/do + subject + V1 ?

Example :
1.       Johana buys a new car today
2.       My sister goes to campus everyweek
3.       My brother plays football every Sunday
4.       A postman delivers letters everyday
5.       I watch the football match in stadion
6.       Ms. Kirana teaches English lesson in every class
7.       My father doesn’t read a magazine everymorning, but he reads a newspaper everymorning
8.       They  don’t bring English dictionary, but they bring Italy dictionary
9.       Does she work everyday?
10.   Do you drink a cup of tea everymorning?

 PRESENT CONTINUOUS TENSE
(+) Subject + be (am, is, are) + V1
(-) Subject + be (am, is, are) not +V1
(?) be (am, is, are) + subject + V1?
Example :
1.       Johana is buying a new car now
2.       My sister is going to campus now
3.       My brother is playing football
4.       A postman is delivering a letter
5.       I am watching a football match in stadion
6.       Ms. Kirana is teaching English lesson in every class
7.       My father isn’t reading a magazine now, but he is reading a newspaper now
8.       They aren’t bring English dictionary, but they are bring Italy dictionary
9.       Is she working now?
10.   Are you drinking a cup of tea now?

FUTURE TENSE
(+) Subject (they, we, I, you, he, she, it) + will + V1
(+) Subject (I, we) + shall + V1
(-) Subject (they, we, I, you, he, she, it) + will (not) + V1
(-) Subject (I, we) + shall (not) + V1
(?) Will + subject (they, we, I, you, he, she, it)  + V1
(?) Shall + subject (I, we) + V1
Example :
1.       Johana will buy a new car tomorrow
2.       My sister will go to campus tomorrow
3.       My brother will play football next week
4.       A postman will deliver a letter
5.       I shall watch a football match in stadion
6.       Ms. Kirana will teach English lesson in every class
7.       My father will not read a magazine tomorrow, but he will read a newspaper tomorrow
8.       They will not bring English dictionary, they will bring Italy dictionary
9.       Will she work next month?
10.   Will you drink a cup of tea tomorrow?

PAST TENSE
(+) Subject + V2
(-) Subject + did (not) + V2
(?) Did + subject + V2
Example :
1.       Johana bought a new car yesterday
2.       My sister went to campus two days ago
3.       My brother played football lastweek
4.       A postman delivered a letter
5.       I watched a football match in stadion
6.       Ms. Kirana taught English lesson in every class
7.       My father did not read a magazine yesterday, but he read a newspaper yesterday
8.       They did not bring English dictionary, but they brought Italy dictionary
9.       Did she work last month?
10.   Did you drink a cup of tea last night?


Sabtu, 10 Desember 2011

Siang di Sebuah Restoran



“Mengapa kau tak bilang padaku?”
Sejenak ia terdiam. Matanya memandang gelas berisi air pesanannya, kemudian perlahan dialihkan padaku.
“Belum saatnya...”
“Belum saatnya?!!!” sengaja aku keraskan volume suaraku, tak hirau akan pengunjung restoran lain, yang saat ini mungkin sudah membelalakan mata padaku.
“Tenang, May...tenang...”, ia mencoba menjadikan dirinya sendiri sebagai sosok yang bersahaja. Namun kini, lelaki yang duduk  bersebrangan denganku sudah tak berharga sama sekai meski dasi bermerek luar itu masih tetap setia menggantung pada leher yang tubuhnya dibalut kemeja sutra. Matanya tak lagi memandangku, kepalanya kembali tertunduk. Bahkan untuk melanjutkan pembicaraan ini dia sudah tak lagi mampu. Terpaksa aku yang berinisiatif.
“Jadi kapan kau akan memberi tahuku??”
Dia masih tetap diam. Perlahan ia coba mengangkat wajahnya yang harus aku akui tetap tampan meski kuyu. Alisnya yang tebal, matanya yang tajam, hidungnya yang sedikit melebar namun proposional dengan lebar wajahnya. Dan aku tersadar dari lamunanku saat ia baru saja mengambil nafas panjang dari hidung itu. Lalu kutujukan tatapan mataku pada bibirnya, seksi tanpa kumis yang menggantung, yang perlahan membuka..Ah!
“Aku kira kau sudah tahu sejak semula.”
“Apa??!!” aku berteriak dalam hati, lamunanku menggantung tentang dia masih bermain dalam otak. Di dalam imajiku, teriakan tadi pastilah akan memecahkan seluruh kaca restoran ini. Karena jawabanmu adalah kalimat jawab yang buruk sekali, Nif. Tentu kau tahu itu, aku masih membatin.
Dan inilah kalimat yang keluar dari mulutku.
“Nif, tampaknya kau tidak mengenalku sama sekali. Jadi tolong! Dengarkan baik-baik perkataanku ini...”, aku ambil nafasmu, “aku bukanlah perempuan murahan yang kau jadikan gundik oleh seorang lelaki yang telah beristri, apalagi beranak! Simpan kalimat tadi baik-baik di dalam memorimu!” Aha, akal pikiran dan emosi hatiku bekerja sama dengan sempurna. Siapa bilang perempuan hanya bisa bermain hati tanpa rasio. Sebetulnya, hati siapa yang takkan terpincut oleh kegantengan Hanif, pemuda tengah baya yang sedang ranum-ranumnya? Namun pikiranku sejak melangkah keluar dari rumah adalah memutuskan hubungan kami. Ya, kami harus berpisah. Maka segera kuucapkan.
“Selamat siang!” aku segera beranjak untuk pergi.
“Jangan pergi dulu, Lin! Aku mohon!” ia memegang pergelangan tanganku. Erat, namun tak bisa aku samakan saat ia pertama kali menjabat tanganku, erat. Di malam kami berkenalan. Juga tak, kepada pelukannya, erat, yang ia berikan padaku di malam itu juga saat kami berdansa. Ah. Aku hapus semua bayangan itu.
Tapi aku mengalah, tetap duduk di kursi yang sebetulnya sudah tidak menerimaku lagi.
“Agaknya, giliranku untuk bicara banyak...”
Ia coba berkalimat hanya untuk kembali diam dan ini membuatku bosan.
“Sudahlah, Nif. Lebih baik kita berpisah sekarang. Sebelum kau membuat keputusan yang bodoh dan sebelum aku terjerumus semakin dalam!”. Gila, tak kusangka aku bisa berbicara begitu bijak.
“Tidak, tidak, Lin. Aku harus bicara padamu sekarang. Aku jatuh cinta padamu. Sungguh, Lin, aku cinta kepadamu...”
Aku biarkan diriku tenang dan kulihat tatapannya yang tajam, dalam, yang aku ingat betul, telah membuatku jatuh di malam pertama aku bertemu. Tatapan yang kini, entah karena apa, diiringi dengan genangan air mata.
“Kau tak perku melakukan ini, Nif! Aku belum hamil, kau tidak perlu susah-susah mengatakan itu hanya untuk membuktikan bahwa kau adalah lelaki!” aku masih sanggup berkata tenang.
“Ini kali aku berkata jujur, Lin. Hubungan dengan istriku sudah lama tak menentu. Meski kami setumah namun kami sudah tak sepaham...”
“Oh, ya!” aku langsung membalas. Jika ini adalah pertandingan bulu tabgkis maka inilah satu-satunya partai tunggal campuran, antara lelaki dan perempuan. Dan sang lelaki baru saja memukul shuttle cock melayang di udara, memberi kesempatan pada perempuan untuk sebuah smash. “Kau dan istrimu sudah tak sepaham, sehingga sebulan yang lalukalian memutuskanuntuk berlibur ke Lombok saat sebelumnya kau katakan padaku bahwa kau mempunyai tugas penting ke Bangkok. Kau dan istrimu sudah tak sepaham sehingga seminggu setelahnya kau bergandengan tangan mesra di supermarket. Dan aku masih ingat, Nif. Masih jelas di dalam ingatanku bahwa saat itu kau menjanjikan sebuah makan malam yang romantis. Dan, dan, masih ku ingat juga saat kau bilang bahwa kau sedang..sedang..ah, ya..sedang menjamu tamu kantor saat kau menunggu kedua anakmu bermain, duduk di sudut food court berbincang mesra dengan istrimu. Jiiih, aku lihat semua itu, Nif! Dengan mata kepalaku sendiri! Apakah itu yang kau sebuh dengan tak sepaham lagi, Nif! Iya! Ah tentu kau tak tahu betapa sakitnya melihat itu semua...,” smash itu sangat tajam dan masuk di bidang yang kosong, tak bisa dijangkau oleh sang lelaki. Ya, the game is over!
Aku terpaksa menutup kedua mataku dengan tangan mencegah air mata yang ingin keluar. Barangkali sakit yang pernah dirasakan seorang manusia adalah tak bisa memiliki apa yang mereka cinta.
“Lin,maafkan aku, Lin..!”
“Bagus, Nif. Sangat bagus sekali. Sekarang kau menyesali semua perbuatanmu terhadapku. Selamat tinggal, Nif! Sekali lagi aku tegaskan, aku bukan perempuan yang suka mengganggu pernikahan orang lain!!” aku berdiri dari bangku yang terasa menusuk pantatku sejak tadi, kemudian bergegas tinggalkan restoran yang belum pernah aku masuki sebelumnya, dan sepertinya tak akan aku masuki lagi.
Kebetulan sebuah taksi menurunkan penumpang di hadapanku, tepat di depan pintu masuk dan keluar, langsung saja aku naik.
“Rumah, Pak!” kataku sambil duduk.
Kulihat supir taksi itu memandang heran kepadaku. Aku langsung menunduk.
“Rumahnya dimana, Mbak? Kan saya tidak tahu..!” supir taksi itu menyadarkanku.
“Ah, ya, maaf, Pak. Perumahan Delta.” Dasar bodoh aku ini, pikirku.
“Nah, kalau itu saya tahu.”
Taksi berangkat, aku meneguhkan hati untuk menengok ke arah restoran itu. Tidak. Aku tak mau tahu apa yang sedang dilakukan Hanif sekarang, esok dan selamanya. Tiba-tiba nada dering HP-ku berbunyi dan nama Hanifku terpampang dilayar. Segera saja aku sahut.
“Hallo...”
“Hallo!” aku ulangi.
..sunyi..tak ada suara dari Hanif, bahkan tak pula desah nafasnya.
“Nif!” aku coba memanggil.
“Hallo, Nif!”
“Lin..,” tampak lemah suaranga.
“Nif..”
“Nif..,” ingin aku memanggil namanya ribuan kali.
“Nif..,” namun akal pikirku tak membolehkannya.
Sepi kembali dan kini aku yakin takkan ada lagi suara yang terdengar darinya, lalu sambungan terputus. Kemudian dengan keyakinanku, entah di bawah perintah hati atau pikiran, aku hapus nomornya dalam phone book.
“Kenapa, Mbak?” supir taksi itu tampak perhatian.
“Ah, nggak pa-pa,” aku mencoba menjawab.
“Bisa nyalakan radio, Pak?” suaraku hampir terpendam nafas tangis.
“Bisa, bisa, Mbak..”
Terdengar lalu suara penyiar yang kukenal dan diikuti sebuah lagu.
“Gelombak berapa, Mbak?” supir itu bertanya sopan.
“Ah, ini saja, Pak..,” kini separuh suaraku tertelan oleh tangis “tidak usah dipindah!”
‘Januari’ oleh Glenn Fredly terdengar bersama air mataku yang mengalir.